[Cerpen] Dear Tata Dear Fikri

Dear Tata,
Mengapa handphone-mu tidak pernah aktif, Tata? Aku benar-benar butuh bantuanmu!!! Semoga kamu bisa segera membaca e-mailku ini.
Aku benar-benar nggak bisa mikir sekarang, Ta….aku juga sebenarnya susah mau cerita ke kamu, tapi aku nggak mungkin nyimpen uneg-uneg ini sendirian. Aku nggak mungkin curhat ke orang tua, karena aku yakin, mereka nggak akan mau bantu. Mereka nggak akan peduli sama semua ini. Minta bantuan temen-temen kuliah? Oh, Tata, mereka bukan orang-orang baik yang bisa diandalkan. Cuma kamu Tata, sahabatku yang bisa membantuku untuk menyelesaikan masalh ini.
Tata, kamu pasti sudah dengar berita tentang gempa di Padang kemarin kan? Sudah tahu bagaimana parahnya semua itu? Sudah tahu berapa banyak korban jiwanya? Siapa saja bisa mati karena bencana itu kan, Ta? Gimana sama Fikri? Fikri masih belum ketahuan kabarnya bagaimana, Ta…. Masih hidup? Atau matikah? Lukakah? Huft, aku nggak tahu apa-apa, Tata. Aku bingung sendiri. Aku kacau. Aku……nggak bisa ngomong apa-apa Tata….aku pusing, bingung, kacau, stress, gila, pingin teriak-teriak, kacau, stress, pusing…Aaarrrrrrgh!!!
Tolong, Tata. Bantu aku buat cari kabarnya Fikri ya. Dia sudah tidak punya sanak saudara. Tidak akan ada yang peduli sama dia. Tidak mungkin ada yang mencari dia. Tidak ada yang menangis kalau dia mati atau terluka. Oh, Tata. Ini benar-benar menyiksaku. Kamu tidak ingin aku terus-terusan sengsara seperti ini kan, Ta? Kamu tahu betapa berartinya Fikri buat aku.
Ta, aku minta tolong ini nggak harus kamu kabulin kok. Karena mungkin terlalu berat untukmu. Tapi, aku bener-bener memohon. Mohon sekali kepadamu, Tata, sahabatku. Aku sekarang tinggal di Bali bersama orang tuaku. Kamu pasti tahu kan, Ta, mereka pasti tidak mengizinkan aku pergi ke Padang dengan alasan apapun (karena mereka tahu Fikri sedang berada di Padang). Sedangkan kamu…..kamu tinggal di Bandung. Kamu bisa dengan mudah pergi ke Padang, kan Ta? Orang tuamu nggak akan melarang kalau kamu bilang mau bakti sosial. Uangnya aku transfer, Ta. Kamu nggak usah khawatir. Yang kamu lakukan cuma pergi ke Padang dan cari kabar tentang Fikri. Kalau dia masih hidup, ajak dia ke Bandung, nanti aku akan ke sana. Kalau sudah meninggal (semoga itu tidak terjadi), yah, apa boleh buat, aku minta dia dikuburkan secara layak, dan kasih tahu aku di mana makamnya.
Aku benar-benar minta tolong…tolong sekali. Aku nggak tahu bagaimana kelanjutan hidupku tanpa Fikri.
Terima kasih banyak Tata. Aku mulai sedikit tenang. Tuhan akan selalu menyertaimu, sahabatku.
Maharani



Fikri….Fikriku malang
Aku tahu kamu nggak akan baca surat ini sekarang. Kamu sedang dalam musibah kan? Kamu nggak mungkin sempat mengecek e-mailmu apakah ada pesan baru atau tidak. Tapi aku cuma ingin menunjukkan rasa simpatiku untukmu dan sekaligus ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya karena aku nggak bisa berangkat ke Padang. Yah, kamu tahu kan? Orang tuaku nggak akan mengijinkan aku pergi, apalagi kalau itu buat kamu. Mereka kan tidak suka padamu (entah mengapa).
Fikri…
Tidak tahukah kamu bahwa sejak berita gempa bumi kemarin aku tidak bisa tidur dan makan karena memikirkanmu? Aku belum tahu kabarmu. Aku sudah telepon PMI, rumah sakit, dan beberapa posko di sana, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada yang bernama Fikri Rahmadin dengan ciri-ciri seperti yang aku sebutkan. Kamu di mana Fikri? Kalau masih hidup kenapa tidak menjawab teleponku atau meneleponku?
Aku baru saja mengirim e-mail kepada Tata dan meminta dia untuki pergi ke Padang khusus untuk mencarimu. Kamu tahu Tata kan, Fikri? Kamu sudah pernah bertemu dengannya. Masih ingat kan? Kita bertiga bertamasya di Jakarta dua tahun yang lalu?
Oh, Fikri….aku tidak tahu mengapa engkau memilih kota Padang sebagai tempat bekerja. Mengapa engkau tidak di Bandung saja bersama Tata. Itu akan lebih baik jadinya. Mencari nafkah di Bandung tidak kalah baik dengan Padang.
Fikri…
Aku akan selalu menunggu kabar darimu. Aku berharap yang datang adalah berita baik, karena aku….aku belum siap untuk berpisah denganmu. Kamu bukan lelaki biasa, Fikri…kamu cerdas dan bijaksana, kamu……hahaha….aku tidak kuasa Fikri…kamu sukses mencuri hatiku!
Fikri…
I Love You….
Aku akan selalu menunggumu…
Maharani

“Kasihan sekali gadis ini. Dia benar-benar cemas dengan kekasihnya yang sedang berada di Padang. Hahaha…”
“Memangnya kekasihnya sedang apa di Padang?”
“Sedang bekerja, menurutnya. Dia tidak tahu kalau kekasihnya mengambil cuti panjang untuk berlibur di Pulau Lombok bersamaku.”
“Hahaha. Biarkan saja dia menangis tersedu-sedu untukku. Kita nikmati saja liburan ini.”
“I love you, Fikri.”
“I love you, too, Tata.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: