Memperbaiki Distribusi Film Indonesia

Saat diberi tantangan untuk menulis dengan tema “Wajah Sinema Indonesia”, kebetulan saya juga sedang mempelajari saluran distribusi produk di perkuliahan. Akhirnya saya terpikir tentang saluran distribusi film di Indonesia. Apakah mungkin ini salah satu faktor lambatnya kemajuan perfilman Indonesia?

Dibandingkan dengan negara lain, industri film di Indonesia jauh tertinggal. Saya tidak akan membandingkannya dengan Hollywood karena industri film di Amerika memang terlalu besar untuk disaingi. Kita bandingkan saja industri film Indonesia dengan Thailand, Korea, Jepang, Prancis, dan India. Negara-negara yang disebutkan di atas bukanlah negara adidaya, atau memiliki sumber daya yang besar, namun industri film mereka berkembang dengan pesat. Melihat itu, seharusnya industri film Indonesia tidak memiliki alasan untuk tertinggal di belakang.

Beberapa kali saya mendengar dan membaca keluhan rekan-rekan mengenai kurangnya kreativitas produsen film di Indonesia. Jiplak sana, jiplak sini, sehingga film-film yang ditayangkan tidak memiliki daya tarik tersendiri. Jujur saja, saya mengeluhkan hal yang sama. Namun jika kita jeli, sebetulnya banyak sekali film Indonesia yang ceritanya original, akting dari aktor dan aktrisnya mengagumkan, serta eksekusinya cukup bagus. Sayangnya, karena sedikit peminatnya, film tersebut hanya tayang sebentar di bioskop atau bahkan tidak tayang sama sekali. Saya termasuk orang yang kurang begitu menaruh perhatian pada film Indonesia. Tidak jarang saya ketinggalan berita tentang film-film Indonesia. Ketika mendengar ada film Indonesia yang (katanya) cukup bagus, saya tidak menemukannya di bioskop. Bayangkan jika ada seratus atau mungkin seribu orang di Indonesia yang seperti saya. Ingin menonton, namun filmnya sudah tidak tayang. Bukankah itu sebuah kerugian bagi produsen film?

capture-20161120-175833

Saya adalah penikmat film Hollywood. Jika suatu kali saya tidak sempat menonton film, biasanya saya melakukan streaming di aplikasi streaming film Popcorn Time. Film Indonesia tidak ditayangkan di sana sehingga saya tidak bisa melakukan hal yang sama ketika saya ingin menonton film Indonesia. Lalu dimana saya bisa mencari film Indonesia yang ingin saya tonton? Inilah permasalahan di distribusi film Indonesia. Kurangnya pendistribusian menyebabkan rumah produksi film kehilangan tidak hanya satu, namun ribuan potential buyer.

Karena penasaran, saya mencoba mencari aplikasi atau situs streaming film Indonesia dan menemukan situs iflix dan klikfilm.net. Wah, akhirnya saya bisa nonton film Indonesia yang terlewatkan secara legal nih! Saya pun mencoba mendaftar di kedua situs tersebut untuk streaming film Punk in Love, film Indonesia favorit saya sepanjang masa. Sayangnya, saya tidak menemukan film Punk in Love di kedua situs tersebut. Hmmm.. kira-kira kenapa? Daftar film yang diputar di kedua situs tersebut belum lengkap. Kemudian saat saya mencoba memutar film Siti di klikfilm.net, terdapat pemberitahuan bahwa file tidak bisa diputar. Yah, kecewa lagi. Meskipun begitu, bukan berarti semua file film tidak bisa diputar. Saya mencoba memutar film Moga Bunda Disayang Allah dan berhasil!

capture-20161120-175458

Ketika saya mencoba memutar film di iflix, saya juga mengalami kendala karena tidak bisa memverifikasi nomor handphone. Entah apa yang bermasalah, iflix atau provider telepon saya. Menurut pengalaman sih, yang bermasalah biasanya providernya. Ya sudahlah. Toh, koleksi film Indonesia di iflix masih jauh kurang lengkap dibandingkan dengan klikfilm.net.

capture-20161120-180349

Di masa kini, sistem distribusi melalui aplikasi/situs streaming dapat menarik lebih banyak penonton. Memang sempat beredar kabar burung bahwa pendapatan penjualan film melalui streaming tidak sebanyak penjualan film di bioskop. Namun ini masih jauh lebih baik ketimbang membiarkan maraknya download film ilegal, bukan? Jika masyarakat sudah akrab dengan sistem streaming seperti ini, mungkin sinetron atau web drama juga bisa ditayangkan di aplikasi/situs tersebut sehingga bisa meningkatkan potential buyer.

Sistem distribusi ini memang masih memiliki banyak kelemahan seperti: membutuhkan internet dengan kecepatan tinggi, harus daftar terlebih dahulu, berbayar pula. Namun ini adalah langkah awal yang baik untuk meningkatkan penonton film Indonesia. Dengan meningkatnya penonton, revenue yang didapat rumah produksi semakin tinggi, produksi film selanjutnya tidak asal-asalan, industri film pun dapat menjadi lebih maju.

Tulisan ini dibuat untuk memeriahkan event #mendadakngeblog minggu ke-4 dengan tema “Wajah Sinema Indonesia”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: