Menanti Mekarnya Bunga Kejayaan

Wijaya Kusuma, atau Ratu Malam, atau yang di luar negeri lebih dikenal dengan nama Kadupul  adalah tanaman sejenis kaktus yang berbentuk seperti tulang ikan yang lebar, berwarna hijau, dengan ujung seperti buntut kuda berwarna merah pucat. Buntut ini adalah kuncup Wijaya Kusuma. Tanaman ini berasal dari Sri Lanka dan masuk ke Indonesia pada masa pemerintahan Majapahit oleh para pedagang (yang kemungkinan) berasal dari India. Menurut legenda, bunga ini adalah bunga pemberian seorang Dewi kepada seorang Prabu yang telah menyelamatkan dirinya dari kutukan. Tentu, saya lebih mempercayai versi pedagang India yang membawa masuk bunga ini ke Indonesia. Ada versi lain mengenai asal usul bunga Ratu Malam ini, yaitu bunga ini berasal dari Amerika Selatan dan dibawa oleh pedagang China dari daratan Amerika. Jika kita menelusuri timeline sejarah, Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1527, sementara daratan Amerika Selatan baru dieksplorasi pada awal tahun 1500-an. Saya yakin pada saat itu di sana belum ada peradaban. Berdagang dari Amerika Selatan pun rasanya terlalu jauh, lebih masuk akal jika bunga ini dibawa oleh pedagang dari Sri Lanka atau India.

8381302098_2da8edef59_o

Kuncup WIjaya Kusuma Kredit foto: Binalalala at flickr.com

Wijaya Kusuma termasuk bunga yang langka. Bukan langka karena ia sulit berkembang biak, namun karena ia membutuhkan iklim yang hangat dan tanah yang baik untuk bisa tumbuh dan berbunga. Bunga ini termasuk dalam bunga terlangka dan termahal di dunia. Di Indonesia, Wijaya Kusuma liar saat ini hanya dapat ditemukan di Pulau Nusakambangan. Namun kita tidak perlu jauh-jauh kesana untuk melihat tanaman ini karena bibit tanaman ini pun banyak dijual di penjual tanaman. Harga bibitnya juga tidak terlalu mahal. Sayang, hanya bibit bunga ini yang bisa diperjualbelikan, sementara bunganya sendiri tidak bisa dijual dan tidak bisa diberi harga. Inilah keistimewaan dari Wijaya Kusuma.

Wijaya Kusuma dan Calon Raja

Pada masa kerajaan Majapahit (bahkan hingga sekarang), Wijaya Kusuma dianggap sebagai bunga yang membawa kejayaan. Barangsiapa yang menyaksikan bunga tersebut mekar, maka ia akan menjadi pemimpin atau memiliki rejeki yang berlimpah. Bahkan, salah satu syarat untuk menjadi raja di masa itu adalah memetik bunga Wijaya Kusuma yang sedang mekar. Ini jelas bukan tugas yang mudah. Bahkan dengan teknologi yang canggih seperti saat ini pun,  memetik Wijaya Kusuma yang sedang mekar adalah hal yang sulit. Mengapa? Rupanya, Wijaya Kusuma hanya mekar dalam kurun waktu satu tahun sekali. Berbeda dengan bunga mawar yang mekar dalam kurun waktu satu bulan sekali atau bunga melati putih yang setiap minggunya tumbuh kuncup bunga baru. Tidak hanya itu, Wijaya Kusuma hanya mekar di malam hari dan bertahan selama dua jam saja. Sebelum fajar terbit, bunga ini sudah layu. Karena itu, bisa menyaksikan mekarnya Wijaya Kusuma adalah hal yang langka dan hanya orang-orang yang gigih saja yang bisa bertahan menanti mekarnya sang Ratu Malam.

Bayangkan saja, pada masa kuno, tanpa penerangan yang cukup, calon-calon raja berkelana untuk menemukan Wijaya Kusuma yang hampir mekar, menunggu hingga bunga itu mekar semalaman, dan memetiknya sesegera mungkin sebelum fajar terbit. Calon raja yang berhasil melakukannya dipercaya akan dapat membawa kerajaan pada kejayaan. Konon, mantan presiden Soeharto pernah datang ke pulau Nusakambangan untuk mencari Wijaya Kusuma. Namun ini dilakukannya setelah menjabat sebagai presiden Indonesia.

Wijaya Kusuma dan Para Dewa

Di India, Wijaya Kusuma dikenal dengan nama Brahma Kamalam. Nama tersebut diambil dari nama Dewa Brahma. Kepercayaan masyarakat India kurang lebih sama dengan kepercayaan masyarakat Indonesia. Barangsiapa yang menyaksikan mekarnya bunga Wijaya Kusuma dan berdoa, maka keinginannya akan terkabul.

Di Sri Lanka, Wijaya Kusuma dipercaya sebagai bunga yang berasal dari Kayangan. Saat bunga ini mekar, naga akan turun dari tempat tinggalnya menuju bumi dan mempersembahkan bunga ini pada Buddha yang bertapa di bukit Sri Pada.

Di Indonesia, Wijaya Kusuma diyakini adalah bunga milik Dewa Wisnu, sang Pemelihara.

maxresdefault-1

Wijaya Kusuma dan Saya

Keinginan manusia tidak pernah ada habisnya. Setelah menyaksikan bunga mawar, melati, dan kupu seribu tumbuh dan mekar, saya masih ingin memiliki dan melihat bunga anggrek milik saya sendiri merekah. Setelah memiliki bunga anggrek, saya akan akan menginginkan bunga sedap malam dan cempaka. Begitu seterusnya. Hingga suatu hari saya akan menginginkan Wijaya Kusuma, bunga langka dan termahal di dunia. Sesuatu yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang.

Ambisi saya untuk menjadi manusia terbaik dan paling bahagia di bumi ini (versi saya tentunya) tidak akan pernah berhenti, entah saya sadari atau tidak (untuk saat ini sih, saya sadar). Pencapaian demi pencapaian telah saya miliki, namun selalu ada hasrat untuk terus memiliki hal lainnya.

Mungkin ada benarnya, bahwa Wijaya Kusuma adalah bunga yang membawa kejayaan bagi orang yang melihat bunga itu mekar. Mungkin itu bukanlah sekedar mitos. Kita analogikan bahwa seseorang yang memiliki kegigihan yang kemudian menemui keberuntungan, ia akan berjaya. Bukankah sukses itu adalah kombinasi antara kegigihan/persiapan dan keberuntungan? Sama seperti calon raja di masa lampau yang tidak pernah berhenti mencari Wijaya Kusuma. Jika beruntung, ia akan menemuinya dan kemudian menanti saat yang tepat untuk memetiknya.

Saya pun pada dasarnya sama seperti mereka. Saat ini saya masih mencari-cari sesuatu yang bisa mengantar saya ke pintu kejayaan. Beberapa bunga telah saya temui dan semuanya sangat indah, namun mereka bukan Wijaya Kusuma. Harapan saya, ke depannya, kita semua dapat menemui Bunga Kejayaan masing-masing.

Tulisan ini dibuat untuk memeriahkan event #mendadakngeblog minggu ke-2 dengan tema Puspa dan Satwa Nusantara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: