[Nulis Kilat] [Cerpen] Air Mata Nir

Palagan pastilah desa yang beruntung. Sungainya mengalir, tanahnya subur, musim hujan dan kemarau datang silih berganti dengan teratur setiap tahunnya. Tidak pernah kekeringan, tak ada pula kebanjiran.  Rakyatnya selalu bersuka cita karena panen tidak pernah gagal.

Rupanya tidak semua hal bersifat abadi. Sudah tiga tahun ini Palagan mengalami kekeringan parah. Sungai tak lagi mengalir, tanah menjadi tandus, tanaman tak ada yang bisa dituai. Rakyat menjadi cemas. Mereka memohon kepada Dewa untuk menurunkan hujan.

“Tidak akan ada hujan turun,” kata Nir kepada suaminya. Mereka sedang duduk santai di teras.

“Makanya turunkan hujan,” kata Elang.

“Aku tidak bisa.”

“Bukankah kamu pernah bilang kamu bisa melakukan apa saja?”

“Iya, tapi aku tidak bisa mengubah cuaca.”

“Huh, jangan-jangan kamu bidadari palsu,” goda Elang.

“Jangan mengejekku,” Nir tersenyum.

Sesaat di kejauhan Nir dan Elang melihat segerombolan orang berlari-lari menuju rumah mereka. “Elang! Elang!” seru seseorang di antar mereka.

Elang menghampiri mereka. Nir mengikuti suaminya. “Ada apa, Pak Sigit?” tanya Elang.

“Si Daud sekarat, Lang!” ujar Pak Sigit.

“Kasihan, Lang. Tolong sembuhkan dia. Ibunya dia udah kebingungan. Tak ada uang buat berobat ke dokter,” seorang ibu menimpali.

“Iya, Lang. Tolong selamatkan Daud. Kasihan dia masih kecil.”

“Iya, iya. Saya ke sana.”

“Aku ikut,” ujar Nir sebelum ditanya. “Aku mungkin bisa membantu menyembuhkan,” bisik Nir pada Elang saat mereka berjalan menuju rumah Daud.

Gubuk kecil itu dulunya berdiri kokoh dan memiliki dinding yang cukup tebal karena sering dikapur. Kini lapisannya mulai mengelupas. Bangunannya pun terlihat reyot. Elang masuk ke dalam dan menemukan si kecil Daud tergeletak di sebuah kasur tipis. Sayangnya mereka terlambat. Malaikat mungil itu telah berpulang.

Nir melihat seorang anak kecil setinggi satu meter, berkulit sawo matang, berambut hitam lebat di hadapannya. Anak kecil itu mengejeknya. “Kamu yang salah!” ia mengatakan itu berulang-ulang sembari berlari-lari. “Semua orang akan mati dan itu salahmu!”

Nir bergidik. Ia pamit pulang ke rumah terlebih dahulu. Elang bersama warga lainnya akan menguburkan Daud sebelum pulang. Beberapa orang mencoba menenangkan ibu Daud yang histeris. “Aku tak punya uang, aku tak punya nasi, aku tak punya anak, aku mau mati saja!” kalimat itu diteriakkan berulang-ulang olehnya.

“Sudah ada korban mati karena kelaparan. Sampai kapan Dewa tidak mau menurunkan hujan,” seorang ibu mengadu.

“Tolong kami! Turunkan hujan!” seru yang lainnya.

“Aku tak mau anakku mati kelaparan!”

Nir menutup kupingnya sepanjang jalan. Sesampainya di rumah, Nir mengadu pada Dewa. Ia memohon untuk diturunkan hujan walaupun tahu itu tidak mungkin. Ia pun menerima jawaban yang sesuai dengan perkiraannya. Tidak akan turun hujan selama Nir hidup berbahagia.

Hujan hanya akan turun jika Nir berduka dan meneteskan air mata. Matahari mampu bersinar hanya jika Nir gembira. Dulu Nir selalu bisa mengontrol perasaannya. Ia gembira dan bersedih secukupnya. Karena itu desa menjadi subur.

Semenjak menikah dengan Elang tiga tahun lalu, Nir hanya bisa merasakan kebahagiaan. Rasanya tidak mungkin ia bisa menangis. Ini yang menyebabkan Matahari bersinar cerah sepanjang hari sepanjang tahun. Tidak ada setetes air pun turun dari langit.

Sepulang dari menguburkan Daud, Elang duduk di teras sembari merokok seperti biasanya. Nir berdiri di balik pintu dengan ragu. Ia harus melakukan ini. Jika tidak, seluruh desa akan mati kelaparan.

Nir mendekati Elang dan berlutut di hadapannya. “Kangmas, aku minta kamu ceraikan aku.”

“Apa maksudmu itu?”

“Aku harus mengembalikan desa ini seperti sedia kala.”

“Kita harus bercerai supaya desa ini bisa kembali subur lagi? Logika macam apa itu?”

“Tidak ada logika. Aku tidak berasal dari dunia ini, karena itu aku tidak mengikuti logika yang ada di sini. Aku harus bersedih supaya hujan bisa turun lagi. Sementara jika terus bersamamu, aku tidak mungkin berduka. Matahari akan terus bersinar dan kekeringan akan terus terjadi. Aku tidak mau membunuh lagi. Aku harus berkorban supaya rakyat bisa hidup senang.”

Elang ragu. “Nir, kamu tahu aku mencintaimu…”

“Aku tahu. Tapi kita tetap harus bercerai.”

“Benarkah jika kita berpisah maka hujan akan turun?”

Nir mengangguk.

“Baiklah, Nir. Aku menceraikanmu.”

Setetes air mata Nir turun ke pipi. Di saat yang sama setetes air hujan turun ke Bumi. Semakin deras tangis Nir, semakin deras pula hujan yang turun. Malam itu rakyat kembali bersuka cita. Ada harapan lagi bagi mereka untuk kembali bercocok tanam dan hidup sejahtera seperti dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: