[Nulis Kilat] [Cerpen] Bekas Nippon

Sepasang kaki kecil berlari-lari menyusuri pematang sawah.

“Nenek! Nenek!” bocah laki-laki pemilik kaki itu memanggil-manggil perempuan lanjut usia yang tengah menyiangi rumput.

“Ada apa, Nak?”

“Yu’ Pah dipukuli sampai hampir mati!” kata si bocah dengan nafas terengah-engah.

“Apa maksudmu? Di mana Pah sekarang?”

“Di depan gubugnya.”

Mereka berdua lantas berlari-lari menuju tempat kejadian. Nenek itu melihat sendiri bagaimana cucunya dipukuli kayu oleh ibu mertuanya sendiri. Belasan orang telah berkumpul untuk menonton penyiksaan itu.

“Berhenti! Berhenti!” teriak nenek sekuat tenaga. Perempuan itu menurunkan kayu yang ia gunakan untuk memukul.

“Sudah gila kamu, ya!? Kamu mau membunuh menantumu sendiri!?” Bentak nenek.

“Harusnya Nenek yang tanya itu sama cucu Nenek. Coba lihat,” perempuan itu memaksa Pah berdiri. “Perutnya sudah kempes. Dia sudah melahirkan. Tapi mana anaknya sekarang? Tidak ada! Kenapa? Karena sudah dibunuh oleh ibunya sendiri!”

Perempuan itu mendorong Pah hingga jatuh ke tanah. Pah tidak melawan. Rambutnya kusut. Kakinya dan tangannya penuh darah dan luka akibat pukulan yang ia terima. Punggungnya yang tertutup kebaya pun mungkin penuh luka dan memar. Nenek berlutut di depan cucunya dan bertanya selembut mungkin. “Benarkah itu, Nak?”

Tidak ada kata yang keluar dari mulut Pah. Hanya isak tangis saja yang terdengar. “Coba kamu jawab pertanyaan Nenek, apakah itu benar?” sekali lagi, perempuan renta itu bertanya. Pah mengangguk lemah.

Ibu mertuanya hampir memukulnya lagi namun beberapa orang menahannya. “Perempuan gila! Apa kamu tidak kasihan dengan suamimu yang saat ini berlatih untuk membela negara? Tidak ingatkah kamu pada orang tuamu yang dikirim ke luar Jawa untuk bekerja?”

“Karena saya ingat pada mereka, makanya saya tidak mau melihat bayi itu!” jawab Pah lirih. “Aku tidak ingin mengkhianati mereka yang jauh dari rumah untuk membela negara dan mereka yang telah gugur akibat perbudakan.”

“Apa maksudmu, Anakku?” tanya nenek sambil meremas tangan Pah yang kotor.

“Bayi itu bermata sipit, Nek. Dia tidak terlihat seperti orang Jawa!”

“Bagaimana mungkin…” ibu mertuanya keheranan. “Maksudmu? Kamu selingkuh dari anak saya!?”

Pah tidak menghiraukan orang tua yang seperti kesetanan itu. Ia memandang neneknya. “Dia terlihat seperti tentara biadab itu. Tentara yang menculikku sehari sebelum hari pernikahanku.”

Mendengar itu, ingatan nenek kembali ke musim kemarau tahun lalu.

***

Hiruk pikuk terdengar di sebuah rumah sederhana di ujung jalan. Sengatan matahari di awal bulan September tidak menyurutkan semangat ibu-ibu untuk mengiris berbagai sayuran dan merebus daging. Janur-janur kuning dan rangkaian bunga terpasang dengan cantik di depan pintu. Di sana, Nenek menunggu seorang gadis yang tadi berpamitan untuk membeli telur dan tepung. Gadis yang menolak untuk dipingit menjelang hari pernikahannya.

Berjam-jam hingga berhari-hari, gadis itu tak kunjung pulang. Orang tuanya sudah pasrah dan merelakan kepergian anak mereka. Calon suaminya di lain pihak masih optimis bahwa si gadis masih hidup di suatu tempat dan akan kembali kepada mereka. Nenek sepakat dengan calon cucu menantunya.

Beberapa bulan kemudian, Pah pulang ke rumah dengan tubuh yang sangat kurus. Wajahnya dipoles dengan cantik dan rambutnya tertata rapi. Ia tersenyum lebar. Saat semua orang menanyai kemana ia pergi selama ini, dengan bersemangat ia menjawab bahwa ia menerima ajakan tentara Nippon untuk belajar ke luar kota. Keluarganya segera mempercayai cerita itu karena beberapa gadis desa pun diundang oleh tentara Nippon untuk bersekolah.

Dua minggu setelah kepulangannya, Pah dinikahkan dengan laki-laki yang dulu pernah melamarnya. Mereka hidup berbahagia dan menunggu kelahiran buah hati saat sang suami direkrut untuk menjadi tentara PETA. Nyaris di saat yang bersamaan, orang tua Pah dijemput paksa oleh Nippon untuk bekerja di lahan pertanian di luar Jawa.

***

“Saya adalah bekas Nippon,” Pah mengaku. “Suami saya belum tentu pulang dengan selamat. Orang tua saya menghilang. Anak saya bukanlah dari hubungan yang suci. Tidak ada lagi artinya hidup ini. Silakan bunuh saya.”

Ibu mertuanya nyaris roboh. Ia tidak percaya anaknya menikahi budak Jepang. Janin yang selama ini ia kira adalah cucunya ternyata keturunan asing. Ia tidak punya kata-kata yang bisa ia ucapkan selain, “Pergi kamu dari sini. Jangan kembali. Aku anggap pernikahanmu dengan anakku tidak pernah ada.”

Warga desa sepakat bahwa Pah adalah aib yang harus dibuang jauh-jauh. Tidak henti-hentinya mereka melayangkan cibiran dan ejekan pada Pah hingga suatu malam, ia meninggalkan nenek dan gubugnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: