[Nulis Kilat] [Cerpen] Rumah Pelangi

Di kamar belakang sebuah rumah tua, seorang anak perempuan berusia sembilan tahun berbalut baju terusan warna biru pucat sedang duduk termenung sembari memegangi secarik kertas. Sebuah keluarga yang terdiri dari sembilan orang tergambar di kertas itu. Mereka semua saling berpegangan tangan, namun tiada satu pun yang tersenyum. Sebuah rumah yang digambar dengan crayon hitam menaungi keluarga tersebut. Sebuah pelangi besar terbentang dari ujung kiri hingga ujung kanan rumah. Warna terakhir dari pelangi tersebut memudar. Di atas kanan pelangi, sebuah matahari kuning besar bersinar cerah.

Seorang perempuan paruh baya mengetuk pintu sembari mengatakan makan malam sudah siap. Anak perempuan berbaju biru itu dengan enggan menaruh kertas bergambarnya di meja dan menuju ruang makan. Di sana sudah tersedia nasi hangat, berbagai sayuran dan lauk pauk. Saudara-saudaranya yang lain pun telah duduk manis dan menyantap hidangan yang disediakan. Anak perempuan itu menghitung jumlah orang yang ada. Hanya enam orang. Empat anak-anak yang lebih tua darinya dan dua orang dewasa.

“Aku tidak mau makan sebelum Nila pulang.”

Semua orang di ruang makan menoleh pada anak perempuan itu. “Biru, kamu jangan berulah. Duduk dan makanlah. Nanti kamu sakit,” ujar seorang laki-laki berkepala botak dengan jenggot tipis berwarna abu-abu.

Tubuh Biru gemetar. Ia tidak suka bertatapan mata dengan laki-laki itu. Sorot matanya selalu menyiratkan permusuhan dan ancaman. Tanpa berkata apa-apa Biru berbalik ke kamarnya dan mengunci pintu.

Ia perhatikan lagi kertas bergambar tadi. Ia tahu betul saudara kembarnya, Nila yang menggambar itu. Ia juga tahu pesan tersirat yang ingin disampaikan Nila dari gambar itu. Meski setengah berharap apa yang ada di pikirannya salah, tapi hati Biru yakin sekali bahwa ia benar. Nila menghilang selamanya. Memudar seperti pelangi yang ia gambarkan. Si bungsu Ungu telah mengalami tragedi itu lebih dulu. Ia sudah tak berkabar selama beberapa minggu. Biru memiliki firasat tak lama lagi ia akan menyusul mereka.

***

“Matahari sebentar lagi bersinar dalam kehidupan kita,” ujar laki-laki botak kepada istrinya.

“Benar. Setelah sekian lama kita hidup dalam dunia yang kelabu. Hampir saja kita dibodohi oleh  orang-orang itu mengenai pelangi yang akan mewarnai kehidupan kita. Huh, kata siapa? Mereka mewarnai diri mereka sendiri. Sementara kita harus berkorban dengan hidup di bawah mendung. Sudah waktunya pelangi itu memudar dan matahari bersinar kembali.”

“Sepertinya Biru curiga akan menghilangnya Nila. Mereka kan saudara kembar. Ia pasti punya firasat kembarannya itu telah dijual. Bagaimana jika eksekusinya kita percepat?”

“Tentu. Kenapa tidak? Akan aku ambilkan tali di gudangkan.”

“Baiklah. Aku akan memaksanya minum obat tidur ini.” Laki-laki itu juga menyiapkan sebilah pisau untuk mengancam Biru seandainya anak itu memberontak.

“Sebaiknya kamu lewat jendela karena aku mendengar ia mengunci pintunya.”

“Oh ya. Sudah kau pastikan berapa harga untuk anak ini?”

Istrinya mengangguk. “Cukup untuk membayar uang muka mobil kita. Mereka menawar harga yang cukup tinggi karena anak ini lebih cantik dari yang sebelumnya.”

Laki-laki botak itu tersenyum senang dan berjalan menuju kamar anak kelimanya dengan obat tidur di tangan kiri dan pisau di tangan kanannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: